Apa itu Transmedia Storytelling - IMedia9 - Connecting Inspiration

Breaking

Friday, December 2, 2016

Apa itu Transmedia Storytelling



Transmedia Storytelling merupakan sebuah konsep menyebarkan elemen fiksi yang terintegrasi ke dalam berbagai media secara sistematis untuk menciptakan pengalaman entertainment yang terkoordinasi dan terintegrasi. Setiap media/channel harus mampu menciptakan kontribusi yang unik dalam merepresentasikan dan melakukan pendalaman terhadap cerita. (Jenkins, 2006).

Secara garis besar fokus utama dari Transmedia Storytelling adalah melintaskan sebuah grand story secara parsial ke dalam berbagai media.

Potongan-potongan cerita tersebut diharapkan dapat memancing audiens untuk terjun lebih dalam ke dalam cerita dan mengkonsumsi semua media yang disediakan.

Dalam Transmedia Storytelling, audience engagement dapat dicapai karena setiap media memperkaya pengetahuan audiens, meningkatkan interaksi dan menambah kepuasan terhadap sebuah cerita (Pratten, 2011).

Itu sebabnya dalam Transmedia Storytelling setiap media harus mampu menambah detil tentang cerita dan mengurangi redudansi.

Di dalam Transmedia Storytelling, potongan-potongan cerita yang disebarkan melalui berbagai media harus mampu berintegrasi dan menghasilkan pemahaman yang utuh terhadap sebuah cerita.
Konsep ini tentu saja berbeda dengan konsep adaptasi suatu IP atau sekedar pemindahan bentuk suatu IP dari buku ke dalam film misalnya. Secara umum terdapat 7 prinsip dalam Transmedia Storytelling, yaitu:

1. Spreadabillity vs Drillability
Seberapa besar tingkat kemampuan konten untuk disebarkan dan seberapa besar pengaruh yang dimiliki konten agar para audiens mau menyebarkannya.
Hal ini berbanding dengan seberapa besar tingkat kemampuan konten untuk memancing para audiens untuk menggali lebih dalam terhadap konten yang disajikan.

2. Continuity vs Multiplicity
Konten Transmedia Storytelling dapat disajikan dengan melakukan kontinuitas dari core story pada setiap media atau melakukan reboot/paralel universe terhadap karakter utama untuk menghasilkan pengalaman yang berbeda.

3. Immersion vs Extractability
Seberapa besar kemampuan konten untuk mampu membaca audiens masuk ke dalam dunia core story atau sebaliknya, seberapa tinggi kemungkinan konten dalam core story dapat dibawa ke dunia nyata (dalam bentuk merchandise misalnya)

4. Worldbuilding
Salah satu titik terpenting dalam konten Transmedia Storytelling adalah pembangunan universe yang solid untuk dijadikan seting bagi para setiap tokohnya.
Dunia yang solid bukan hanya sekedar peta, tetapi juga bahasa, teknologi, dan kultur yang terdapat di dalamnya.

5. Seriality
Konten harus dapat didekomposisi menjadi beberapa mini-konten yang dapat disebarkan secara sistematis ke dalam berbagai media dengan tetap mempertahankan integrasi konten.
Core story hanya dapat diterima secara utuh jika audiens mengkonsumsi seluruh media, meskpun demikian potongan-potongan konten tersebut tetap dapat dinikmati meski dikonsumsi secara terpisah.

6. Subjectivity
Salah satu kekuatan sebuah konten adalah sudut pandang yang digunakan dalam memahami konten tersebut.
Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan variasi konten yang berbeda dan akan memperkaya konten secara keseluruhan.

7. Performance
Konten yang baik harus dapat memancing audiens untuk melakukan sebuah performance atau pertunjukan berdasarkan konten yang disajikan.
Hal ini bisa diartikan sebagai kegiatan komunitas, bedah karya atau bahkan pembuatan fan-fiction yang melibatkan atau tidak melibatkan sang pembuat konten.
Salah satu contoh IP yang menggunakan konsep Transmedia Storytelling adalah Trilogi The Matrix karya Wachowski bersaudara yang pertama kali muncul pada tahun 1999.
the-matrix-mobile-wallpaper
IP ini berkisah tentang perjalanan Neo di dalam sebuah dunia bernama The Matrix. Cerita The Matrix dibangun dengan menggunakan konsep pengembangan Hero Journey (Campbell, 1949).
Secara umum terdapat 3 jenis konsep Transmedia yaitu:
  1. Transmedia Intertextuallity (Kinder, 1991): Lihat Definisi
  2. Transmedia Storytelling (Jenkins, 2006): Lihat Definisi
  3. Transmedia Branding (Tenderich, 2014): Lihat Definisi

No comments:

Post a Comment