Fairy Tales BUKAN Cerita Untuk Anak-Anak! - IMedia9 - Connecting Inspiration

Breaking

Tuesday, April 24, 2018

Fairy Tales BUKAN Cerita Untuk Anak-Anak!



Bagi anda yang berpikir jika cerita-cerita Fairy Tales adalah cerita untuk anak-anak, mungkin anda harus berpikir ulang. Karena berdasarkan hasil penelitian saya (searching di internet doang sih sebenernya mah), saya mengambil kesimpulan jika Fairy Tales bukanlah cerita untuk anak-anak.
Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak Fairy Tales Bukan Cerita Untuk Anak-Anak
Tentu saja, Fairy Tales yang saya maksud di sini adalah Fairy Tales versi asli yang ditulis oleh para pengarang aslinya sejak abad 16.

Sehingga kalau Fairy Tales yang ada di dalam benak anda adalah Fairy Tales versi Walt Disney, maka anda bisa tutup artikel ini sekarang. Fairy Tales sendiri pada awalnya adalah cerita hiburan yang ditujukan untuk keluarga kerajaan setelah makan malam. Kala itu belum ada televisi atau gadget, waktu malam dihabiskan keluarga kerajaan dengan mendatangkan pada storyteller (Bard) untuk bercerita tentang hal-hal menarik, fakta maupun imajinasi, yang berada di luar jangkauan visual keluarga kerajaan.

Era para Bard mulai berakhir saat cerita-cerita itu mulai dikumpulkan, ditulis, dan dibukukan. Sehingga cerita-cerita Fairy Tales mulai dapat dinikmati juga oleh rakyat jelata. Di awali pada abad ke-16, cerita-cerita tersebut mulai dikenal sebagai Fairy Tales dan juga dijuluki sebagai dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Di sinilah sebenarnya fokus utama pembahasan kita. Benarkah Fairy Tales adalah cerita untuk anak-anak?

Cinderella, Rapunzell dan Sleeping Beauty

Beberapa Fairy Tales klasik yang pernah kita dengar adalah Cinderella, Rapunzell dan Sleeping Beauty. Saya rasa kita semua pernah mendengar cerita itu dalam berbagai media. Mulai dari buku dongeng, film animasi atau bahkan mungkin gamenya. Tapi pernahkah kita mencoba untuk menemukan "komponen yang sama" dalam masing-masing cerita itu?

Kita ambil contoh Cinderella, cerita itu berkisah tentang "SEORANG GADIS" yang HIDUP MENDERITA di rumah ibu tiri dan saudara tiri yang "JAHAT" dan berkat bantuan IBU PERI berhasil datang ke pesta dansa PANGERAN, mengalami kejadian MISTIS lain, sampai akhirnya HIDUP BAHAGIA SELAMANYA.

 Contoh lainnya, Sleeping Beauty yang tentang "SEORANG GADIS" yang HIDUP DIASINGKAN di rumah para ibu peri untuk menghindari ancaman KUTUKAN penyihir "JAHAT" terhadap jarum jahit yang bisa membuatnya mati dengan satu-satunya penawar adalah: ciuman sejati SANG PANGERAN. Rapunzell juga bercerita tentang seorang gadis. Begitu pula dengan Snow White, Little Mermaid, dan beberapa kisah lainnya juga kebanyakan bercerita tentang seorang gadis. Ada apa dengan Seorang Gadis? Kenapa subjek utama dalam cerita Fairy Tales jaman dulu kebanyakan adalah SEORANG GADIS?

  c5d614783f87abb9d78e3602c04e4eb2

 Selain kesamaan dalam komponen subjek protagonis, komponen lain yang juga memiliki kemiripan adalah tokoh jahat yang cenderung berasal dari keluarga inti atau minimal memiliki HUBUNGAN KEKERABATAN dengan tokoh utama. Dan tentu saja, adanya komponen khas penanda imajinasi tiada batas: SIHIR. Untuk memahami fenomena ini, maka hal penting yang perlu kita ketahui adalah kronologi waktu. Kapan tepatnya seluruh Fairy Tales ini dibuat.

Giambattista Basile Jika anda gugling dengan kata kunci Cinderella atau membuka Wikipedia, anda akan mendapati jika urutan teratas dari kata kunci tersebut adalah Cinderella versi movie yang dirilis pada tahun 2015 silam. Pose Lily James dalam posternya cukup 'menantang', tapi bukan itu yang mau saya bahas. Melainkan masalah Charles Perault.

Saya kutip pernyataan dari Wikipedia ini untuk anda: Cinderella adalah film fantasi romantis Britania Raya yang disutradarai oleh Kenneth Branagh, dengan skenario ditulis oleh Chris Weitz. Diproduseri oleh David Barron, Simon Kinberg dan Allison Shearmur untuk Walt Disney Pictures, kisah film ini terinspirasi oleh Dongeng Cinderella karya Charles Perrault, dan menggunakan nama-nama karakter dari film Walt Disney tahun 1950 berjudul sama. 

Berdasarkan informasi tersebut, kita sepakat satu hal, jika Dongeng Cinderella merupakan karya Charles Perrault, seorang penulis puisi dan pendongeng asal Perancis. Sementara di daratan Eropa lainnya, kisah Cinderella dan puluhan Fairy Tales klask lainnya dipopulerkan oleh Brothers Grimm. Dalam hal ini, Brothers Grimm tidak mengklaim jika Cinderella adalah kisah karya mereka. Mereka hanya menceritakannya kembali. Lalu siapa Giambattista Basile? 

Dia adalah seorang serdadu Italia yang terlahir di keluarga Neapolitan. Dia menyukai musik dan juga menulis beberapa Fairy Tales. Kebanyakan karyanya sama sekali tidak dikenal, sampai dipopulerkan Brothers Grimm. Salah satunya adalah Cinderella. Ini menarik. Jadi pengarang asli cerita Cinderella adalah Giambattista Basile. BUKAN Charles Perrault! Menyelidiki masalah ini sebenarnya cukup mudah yaitu dengan membandingkan tanggal kelahiran mereka. Siapa yang lahir lebih dulu, pasti yang menulis lebih dulu. Giambattista Basile lahir pada (15 February 1566 – 23 February 1632) sementara Charles Perrault lahir pada (12 Januari 1628 - 16 Mei 1703) Sip! Kasus terpecahkan. Saya tegaskan sekali lagi. Pengarang kisah Cinderella adalah Giambattista Basile. 
BUKAN Charles Perrault!

2953693-painting_sherlock_holmes_by_ineer-d5krpt4

Sampai kemudian saya menemukan salah satu halaman Wikipedia yang menuliskan ini: Cinderella adalah dongeng tradisional dengan versi yang dijumpai di banyak negara, dengan berbagai variasi. Versi paling awal dari cerita ini berawal dari Cina pada 860. Dia tercatat di The Miscellaneous Record of Yu Yang oleh Tuan Ch'ing-Shih, sebuah buku yang ada sejak Dinasti Tang. Wait? WHAAA~T. Jadi sebenarnya... Cinderella itu adalah kisah klasik MADE IN CHINA!

  New-2015-Custom-Made-Women-Halloween-Cosplay-font-b-Adult-b-font-Princess-font-b-Cinderella

Jujur, otak saya rada nggak bisa mencerna ini. Soal kisah Cinderella berasal dari abad ke-16 dengan nuansa kebarat-baratan, okelah. Itu make sense. Tapi abad ke 8? Di Cina pula? A BIG NO-NO. Ini seperti ada yang bilang kalau ada Ikan Hiu yang Jago Manjat Pohon. Pokoknya nggak mungkin banget kalau cerita ini berasal dari Cina.

Tapi bagaimana kalau mungkin? Bagaimana kalau semua ini adalah konspirasi Eropa terhadap kisah Cinderella? Apaan sih? Tapi okelah. Anggap saja saya percaya, dan anggap saja cerita ini memang berasal dari Cina. Toh, tujuan saya semula bukan untuk menemukan darimana cerita ini berasal.

Tapi KENAPA cerita ini dibuat? Apa yang mendasari Fairy Tales ini muncul? The Truth is out there. And we want to discover that! Jika Cinderella benar-benar berasal dari Cina di abad ke-8, maka yang harus kita telusuri lebih lanjut adalah Dinasti Tang. Dinasi Tang Dinasti Tang merupakan salah dinasti yang paling kental asas diskriminasinya.

Masyarakat kelas bawah akan selamanya menjadi masyarakat kelas bawah, sementara para bangsawan akan selamanya menjadi para bangsawan. Jika terjadi penikahan antara para bangsawan dengan masyarakat kelas bawah, maka keduanya akan dihukum. Dalam hal ini, seorang majikan sangat dilarang untuk menikahi pembantunya. Seorang pembantu hanya bisa menikah dengan pembantu lainnya. Karena memang begitulah hukumnya. Sehingga seorang majikan sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menikah dengan seorang pembantu, kecuali dengan sebuah keajaiban. It's Fairy Tales.

  disney-princess_93670_9

 Di sini, saya mulai melihat benang merahnya. Tidak menjadi masalah apakah cerita Cinderella berasal dari Eropa atau Dinasti Tang, tapi semua komponen yang saya sebutkan di atas mulai menunjukkan wujud aslinya. Fairy Tales tampaknya dibuat sebagai sebuah sindiran halus terhadap masalah sosial yang muncul kala itu. Dalam hal ini, komponen SEORANG GADIS memang menggambarkan seorang gadis kelas bawah yang terkurung dan terkekang dengan segala peraturan dan hukum yang berlaku.

Sementara komponen JAHAT yang digambarkan memiliki kekerabatan dekat adalah keluarga, majikan, atau siapa saja yang berada di sekitar lingkungan hidupnya yang mendukung/tidak bisa berkutik terhadap hukum diskriminasi tersebut. Masalah pangeran tampan dan kerajaan itu adalah simbol kesejahteraan dan kesetaraan. Namun semua itu terasa sangat mustahil jika tidak ada SIHIR sebagai satu-satunya jalan "logis" untuk bisa keluar dari kekacauan dan diskriminasi sosial yang saat itu terjadi. Yang menarik, kondisi sosial yang terjadi di Dinasti Tang juga terjadi di Eropa, Asia dan mungkin seluruh dunia termasuk Indonesia. Mungkin hal itu pula sebabnya puluhan judul Fairy Tales laris manis sebagai konsumsi masyarakat kelas bawah sebagai jalan keluar/atau mungkin harapan dari ketidakadilan yang mereka hadapi.

 Khususnya Perempuan. Kesimpulan Fairy Tales versi awal bukanlah cerita untuk anak-anak. Melainkan untuk para gadis yang hidup terkekang saat itu. Untuk memberikan harapan kepada mereka untuk terus hidup dan berjuang. Sampai suatu hari nanti, mereka akan menemukan keajaiban yang mereka cari dalam hidup mereka.
  Color illustration from the fairy tale, Little Red Riding Hood depicting the character, Little Red Riding Hood, sitting on the grass and cowering as a wolf approaches her. | Part of: 'Grimm's Fairy Tales' by the Brothers Grimm. --- Image by © Bettmann/CORBIS

Lalu bagaimana dengan kisah Little Red Riding Hood? Nah, loh? Ini jagoannya malah anak-anak ya? Well, ehm, kelihatannya memang ada Fairy Tales yang ditujukan untuk anak-anak sih (eaaa, mulai ngeles - nggak konsisten nih dengan kesimpulan) tapi itu akan saya bahas dalam artikel lain. *Kabuuur!*

No comments:

Post a Comment